Kamis, 15 Mei 2014

Artikel Kemiskinan


KEMISKINAN

Kemiskinan merupakan masalah sosial laten yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Kemiskinan senantiasa menarik perhatian berbagai kalangan, baik para akademisi maupun para praktisi. Berbagai teori, konsep dan pendekatan pun terus menerus dikembangkan untuk menyibak tirai dan mungkin “misteri” mengenai kemiskinan ini. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena masalah ini masih hadir di tengah-tengah kita dan bahkan kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Meskipun pembahasan kemiskinan pernah mengalami tahap kejenuhan sejak pertengahan 1980-an, upaya pengentasan kemiskinan kini semakin mendesak kembali untuk dikaji ulang.

A.  KONSEP KEMISKINAN
Pengertian atau batasan tentang kemiskinan bukanlah sesuatu hal yang mudah dirumuskan. Kemiskinan sebagai suatu gejala ekonomi sangat berbeda dengan konsep kemiskinan dilihat dari gejala sosial. Ekonomi kemiskinan merupakan suatu gejala yang terjadi di sekitar lingkungan penduduk miskin dan biasanya dikaitkan dengan masalah rendahnya pendapatan. Sebaliknya kebudayaan kemiskinan lebih banyak terdapat dalam diri penduduk miskin itu sendiri seperti cara hidup, filosofi, tingkah laku, nilai-nilai tradisional, persepsi, dan sikap setiap individu yang memiliki perbedaan mendasar tentang pemahaman kehidupan yang diobsesikan. Segenap gejala kemiskinan di lingkungan kita dengan mudah dapat dikenali seperti; kekurangan gizi, busung lapar, buta huruf, lingkungan hidup yang kotor, tingginya angka kematian dan rendahnya harapan hidup.

B.  DEFINISI KEMISKINAN
Pada dasarnya konsep kemiskinan dikaitkan dengan perkiraan tingkat pendapatan dan kebutuhan. Perkiraan kebutuhan hanya dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum sehingga memungkinkan seseorang dapat hidup secara layak. Bila sekiranya tingkat pendapatan tidak dapat mencapai kebutuhan minimum, maka orang atau keluarga tersebut dapat dikatakan miskin.  Ukuran untuk menentukan tingkat kemiskinan paling tidak dapat dilihat dari beberapa hal, sebagai berikut:
1.  KEBUTUHAN MINIMUM
Kesulitan utama di dalam konsep kemiskinan mutlak adalah penentuan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum. Kebutuhan minimum bukan saja dipengaruhi oleh adat dan kebiasaan tetapi erat pula hubungannya dengan tingkat pembangunan, iklim dan berbagai faktor ekonomi lainnya.

2.  KEMISKINAN RELATIF
Dengan memperhatikan berbagai kelemahan tersebut, konsep kemiskinan ini lebih tepat diperlakukan secara relatif daripada mutlak. Ini berarti garis kemiskinan ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitarnya daripada orang atau keluarga itu sendiri. Suatu garis kemiskinan tidaklah dapat ditentukan dalam keadaan vakum, tetapi dilihat dalam hubungannya dengan lingkungan masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Kemiskinan relatif biasanya diperkirakan dengan memperhatikan golongan berpendapatan rendah dari suatu pola pembagian pendapatan.

3.  KEMISKINAN ABSOLUT (Perkiraan Garis kemiskinan Mutlak)
Penentuan garis kemiskinan berdasarkan konsep kemiskinan mutlak dapat dilakukan dengan menempuh berbagai cara pendekatan. Di dalam beberapa negara terdapat perkiraan garis kemiskinan resmi baik untuk merumuskan kebijaksanaan kesejahteraan sosial maupun penyusunan perencanaan pembangunan.

4.  GARIS KEMISKINAN RESMI
Garis kemiskinan resmi merupakan garis kemiskinan yang ditetapkan oleh pemerintah di dalam usaha-usahanya untuk mengukur tingkat kemiskinan. Dasar perkiraan garis kemiskinan resmi ini berbeda-beda antara satu negara dengan negara lainnya.

5.  GARIS KEMISKINAN INTERNASIONAL
Pendekatan garis kemiskinan internasional di dalam menentukan garis kemiskinan suatu negara merupakan suatu cara tidak langsung di dalam mengukur tingkat kemiskinan. Perkiraan semacam ini terutama sekali dilakukan untuk studi perbandingan antar negara di samping memperkirakan tingkat kemiskinan global.

6.  MENGUKUR TINGKAT KEMISKINAN
Perkiraan garis kemiskinan merupakan refleksi dari suatu konsep kemiskinan. Garis kemiskinan ini merupakan patokan terpenting di dalam mengukur tingkat kemiskinan. Pengambilan kebijaksanaan untuk mengatasi masalah kemiskinan akan menentukan pula garis kemiskinan yang akan dipergunakan di dalam memperkirakan tingkat kemiskinan. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan di dalam mengukur tingkat kemiskinan. Pertama, memperkirakan jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Ukuran ini disebut sebagai ukuran jumlah orang (head-count measure). Kedua, memperhitungkan jumlah dana yang diperlukan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Ukuran ini dikenal selaku kesenjangan kemiskinan (poverty gap).

7.  PERKEMBANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA
Berbeda halnya dengan India, Malaysia, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa lainnya, Indonesia belum mempergunakan konsep garis kemiskinan resmi. Namun demikian, beberapa tenaga peneliti telah mengadakan berbagai perkiraan mengenai tingkat kemiskinan di Indonesia baik berdasarkan konsep kemiskinan mutlak maupun kemiskinan relatif.

Sumber: 
eprints.undip.ac.id/3647/1/Artikel_Edi_Santosa.pdf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar